Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Fakultas Seni Rupa IKJ (LPPM FSR IKJ)

 

 

Visi

Menjadi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat yang terkemuka, untuk mengembangkan bidang seni rupa berkarakter budaya urban Indonesia dengan pendekatan interdisiplin pada tahun 2026 yang terbuka dan bermanfaat bagi masyarakat

Misi

  1. Melakukan kegiatan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat untuk menjadi pusat penciptaan dan penelitian bidang seni rupa yang terbuka dan bermanfaat bagi masyarakat.
  2. Melakukan kegiatan kesenian khususnya kegiatan seni rupa sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. 

Panduan Penelitian, Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta

Program Studi dan para Dosen sebagai tulang punggung kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, bersama-sama Fakultas dan LPPM FSR IKJ, membangun sistem sehingga ke depan suatu tradisi Penelitian. Di samping bidang-bidang seni rupa yang terkait dengan kekhasan FSR IKJ seperti budaya urban dan pendekatan interdisiplin, salah satu fokus penelitian LPPM FSR IKJ berorientasi ke dalam yaitu permasalahan pendidikan seni rupa di IKJ. Setelah hampir 50 tahun menjalankan program, FSR-IKJ merasa perlu mengevaluasi kembali proses pendidikan-pengajaran yang selama ini dilakukan termasuk materi ajar dari program studi, serta bagaimana relevansinya dengan perkembangan sosial-budaya-teknologi-industri dan peradaban masyarakat.

 

Kebijakan program penelitian dan pengembangan Fakultas Seni Rupa, khususnya yang dilaksanakan dengan anggaran Fakultas diarahkan pada topik-topik penelitian-penelitian yang secara bertahap bisa membangun suatu pondasi yang kokoh untuk kompetensi dosen dalam meneliti dan menemukan roadmap penelitiannya, juga akan memproduksi dasar-dasar konsep dan gagasan yang mendasar bagi pengembangan keilmuan di FSR-IKJ.

 

Roadmap penelitian dosen selain berguna untuk tujuan formal dari lembaga perguruan tinggi, juga bermanfaat untuk Dosen itu sendiri. Kepakaran dosen dibentuk dan dan tersosialisasi melalui karya-karya ilmiah dan karya-karya seni yang telah dirintis dalam program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Penajaman dalam kepakaran ini walaupun bukan sesuatu yang wajib dan mutlak namun akan lebih memudahkan dalam memposisikan peran dosen dalam masyarakat.

 

Kesemua permasalahan di atas itu diupayakan untuk dicari solusinya dengan mempertimbangkan konteks relevansi peran dan posisi IKJ di dalam dinamika masyarakat lokal, nasional dan internasional. Jenis penelitian yang dilakukan bisa berupa suatu kajian murni tentang suatu permasalahan, atau yang bersifat ekslorasi dan eksperimentasi dengan tujuan pengembangan.

 

Berdasarkan hal itu, dibuat peta pedoman dan ranah Riset Unggulan FSR-IKJ 2017-2020 (SK Dekan FSR-IKJ No: 1015/B.11/D/IX/2017) sebagai berikut:

PEDOMAN RISET FSR-IKJ

 

Topik

Sasaran

Output

Uraian

1. Pendidikan Seni

Penelitian evaluative terhadap materi ajar, metode serta eksplorasi kebutuhan masyarakat di bidang seni desain kriya

Pemetaan, kajian terhadap satu bidang/lebih bidang ilmu di IKJ, atau Model pengajaran baru.

Evaluasi dan menjawab permasalahan masyarakat, industri, budaya dan/atau inovasi yang mengangkat kebutuhan sosial masyarakat. Tawaran konten dan model

2. Eksplorasi karya/produk

 

Pengembangan

Karya (seni, desain, kriya) yang memilki dasar konsep yang ramah lingkungan dan memiliki nilai kebaruan dari berbagai aspek.

Naskah akademik, produk (prototype) siap pamer (seni), siap produksi (desain & kria), siap dikerjasamakan dengan pihak pemangku kepentingan.

 

Prosesnya berupa program eksplorasi dan/atau eksperimentasi menghasilkan karya baru yang memiliki baik aspek kajian maupun aspek pengabdian kepada masyarakat.

3. Menggali Arsip untuk pengembangan pengetahuan dan kekaryaan

Penemuan dasar-dasar dan konsep budaya visual yang menjadi dasar perkembangan budaya visual Indonesia selanjutnya

Tulisan historiografis tentang artefak, fenomena, budaya visual, dan lain-lain yang berkaitan tentang akar seni rupa desain atau kriya di Indonesia masa kini.

Kajian historis lewat arsip ini bisa menjadi sarana evaluative yang akan menarik kaitan antara produk dan kegiatan seni dan desain yang lalu dengan kondisi saat ini.

4. Seni, Kriya dan Desain dalam urbanitas

Kajian nilai‐nilai kultural

dan Estetik serta fungsi pada masyarakat urban dalam menciptakan dan memaknai ruang urban fungsi dalam masyarakat perkotaan yang kian beragam dan kompleks.

Kajian dan/atau model operasional bagi pembinaan dan pengembangan kreativitas masyarakat urban.

Kajian dan/atau model operasional ini bisa diturunkan menjadi petunjuk pelaksanaan (juklak) dan teknis (juknis) dalam pemetaan, pembuatan database kerja kreatif di masyarakat urban, menjadikan pendataan dan model ini sebagai  aset budaya .

5. Fungsi, peran, pola produksi dan distribusi karya seni di masyarakat

Kajian terhadap peranan para pelaku kreatif dan/atau pemangku kepentingan serta hubungan antar pemangku kepentingan dalam jaringan dan upayanya mendistribusi produk dan konsep kreatif.

 

Naskah akademik, model, struktur, pola

bagi pembinaan dan pengembangan 

berbagai media termasuk teknologi baru.

Pola kreatifitas dan jaringan yang mucul dari lembaga informal seperti komunitas seni menjadi masukan dan model bagi pengembangan dunia seni, desain dan kriya.

 

 


Ringkasan Penelitian Dosen Tetap

 

Tri Aru Wiratno

Seni Lukis pamflet

Penelitian seni lukis Pamflet ini terinspirasi dari puisi pamflet, Rendra yang membicara ketimpangan sosial dan ketidak adil yang terjadi. Sebagai sebuah tema pamflet yang berisi ajakan dan kepedulian terhadap permasalahan sosial. Sedangan dalam proses berkarya seni dalam seni lukis pamflet  diinspirasikan proses berkesenian di dalam mengarap karya kolaborasi pertunjukan Terjebak dan membuat karya seni lukis kaligrafi dengan aksara Arab, mempergunakan teknik  kolase digital, printing digital dan melukis dengan cat akrilik di atas bahan vinyl, digital printing. Pengertian Pamflet adalah media yang cetak, berbentuk seperti buku kecil tetapi tidak dijilid. Biasanya berupa lembaran dengan informasi di kedua sisinya. Lembaran ini kemudian dilipat dibagian tengahnya menjadi 4 halaman atau bisa lebih. Ketika dilipat menjadi 4 halaman, pamflet mempunyai nama sendiri, yaitu leaflet. Pamflet muncul pertama kali pada 1387 dengan nama‘Pamphilet’ atau ‘panfett’. Karya seni lukis Pamflet tulis dalam satu aksara atau lebih dalam konten karena visual yang lebih dikedepankan bukan aksara, karena aksara bagian visaul sebagai  bentuk penyampaian informasi. Bisa juga obyek seni lukis yang berisikan konten visual. seni lukis Pamflet bahwa visual aksara sebagai ekspresi dan himbauan dan pesan dalam menyampaikan gagasan kemanusiaan dalam seni lukis Pamflet.  Bentuk seni lukis Pamflet direpresentasikan tidak mempergunakan spanram, kerangka kayu, tidak mempergunakan kanvas, tapi bahan cetak digital, sehingga bentuk lembar, tidak dibingkai sesuai dengan ukurannnya.

 


Lucky Wijayanti

Rekonstruksi Alat Tenun Tradisional Sasak

Tujuan penelitian Pembuatan Perangkat Alat Tenun Bukan Mesin adalah untuk pembuatan alat tenun dengan varian baru, yang terbuat dari material kayu sehingga memudahkan untuk bekerja dan dapat dibuat dengan sistem bongkar pasang. Target yang akan dicapai dari penelitian ini adalah merepresentasikan alat tenun baru untuk para perempuan yang ingin belajar menenun dengan cara yang baik dan tepat serta ergonomis. Eksplorasi material benang dengan teknik tenun melalui hasil temuan peralatan baru untuk memproduksi karya tekstil. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan cara: studi pustaka, observasi, wawancara, dokumentasi foto, eksperimen teknik dan alat,serta eksplorasi material. Penelitian ini dilaksanakan dalam jangka waktu dua sampai tiga bulan. Kegiatan bulan pertama adalah: studi pustaka, observasi, membuat sketsa perancangan, kegiatan bulan kedua adalah: eksperimen dan eksplorasi teknik dan alat tenun. Kegiatan bulan ketiga adalah: penyempurnaan alat tenun, presentasi dan membuat laporan. Hasil penelitian ini akan dipublikasikan dalam format pameran presentasi.

 

 


 

Hafid Alibasyah

 

Hubungan Susastra pada Gambar

Studi Kasus Komik Setangkai Daun Sorga

karya Taguan Hardjo

 

Komik Medan tak berbeda dengan banyak komik lain yang lahir dan diminati oleh banyak orang. Komik Medan mempunyai perjalanannya sendiri, berupa spirit yang datang dari kehendak perlawanan terhadap hegemoni era penjajahan, pengaruh imperialisme dalam banyak lini kehidupan. Banyak inspirasi digali dari riwayat dongeng, hikayat, cerita kerakyatan, tema-tema yang telah lama dikenali turun-temurun, dimunculkan dari banyak seniman gambar Medan memberikan spirit kelahiran sebuah identitas yang menjadikan komik Medan mempunyai kekhususan tertentu tersebut. Tema-tema semacam inilah yang kemudian mencari bentuk ungkap serta tampilannya. Antara susastera dengan ungkapan visual, telah menjadikan komik Medan menemukan semacam pakem dari suasana kelokalan, figur serta latar belakang. Kostum figur-figur pelakunya diupayakan menjelaskan apa dan bagaimana sikap hidup dalam budaya setempat. Komik Medan dengan semangat kelokalannya, melibatkan potensi kearifan ajaran moral baik melalui susastera.

Penelitian ini mengungkap hubungan susastra dengan visual atau gambar-gambar yang terdapat dalam komik Medan, dan berupaya pengembangan model cara melihat dengan mengejar tahu ragam ungkap tertentu dari sesuatu hal yang mempengaruhi dari seorang seniman komik yaitu Taguan Harjo. Pemilihan Taguan Harjo sebagai sampling mengingat prestasi jumlah produk komiknya serta anggapan kedekatan aspek gambar dengan susastera pada karyanya. Salah satu karya komik Taguan yang  berjudul “Setangkai Daun Sorga” – yang adalah merupakan intepretasi dari sastra Perancis, memperlihatkan pengungkapan kata dalam visualisasi yang membentuk identitas yang berbeda. Sebagai contoh, muatan kata sebagai pengikat cerita dituliskan bergabung dengan halaman gambar tanpa bingkai kata-kata atau bidang balon, seperti lazimnya banyak tampilan komik yang lain.

Penelitian ini mengetengahkan telusuran sebuah komik ciptaan Taguan Hardjo dengan mengupas posisi naskah susastera memberi pangaruh kepada bentukan komik menjadi intergrasi kata serta pengadeganan dalam gambar. Komik dilihat bukan saja sebagai permainan gambar dan runtutan peristiwa, bahkan perlu komik dinikmati sebagai ruang  berekspresi yang bermakna dalam atmosfir susastera.